1) Pola Komunikasi
Primer Pola komunikasi primer merupakan suatu proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu lambang sebagai media atau saluran. Dalam pola ini terbagi menjadi dua lambang yaitu:
a) Lambang Verbal
Bahasa merupakan lambang verbal yang paling banyak dan sering digunakan dalam proses komunikasi. Oleh karena itu, hanya bahasa bisa mengungkapkan pikiran komunikator mengenai hal atau peristiwa, baik secara nyata maupun abstrak, yang terhadi masa kini, masa lalu, dan masa yang akan datang.
b) Lambang Non Verbal
Lambang non verbal merupakan lambang yang dipergunakan dalam komunikasi, bukan bahasa, misalnya isyarat dengan anggota tubuh, antara lain kepala, mata, bibir, tangan, dan jari. Menurut Cangara (seperti dikutip dalam Radenintan, 2017), pola komunikasi ini dinilai sebagai model klasik, karena merupakan model pemula yang dikembangkan oleh Aristoteles, kemudian Laswell, hinggsa Shanon dan Weaver.
2) Pola Komunikasi Sekunder
Pola komunikasi sekunder menurut Mulyana (2008) yaitu proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Komunikator menggunakan media ini karena komunikan yang dijadikan sasaran komunikasinya berada di tempat yang jauh atau jumlahnya yang banyak, bahkan bisa keduanya. Komunikasi dalam proses secara sekunder ini semakin efektif dan efisien karena didukung oleh teknologi yang semakin canggih.
Pola komunikasi ini diilhami oleh pola komunikasi sederhana yang dibuat Aristoteles yang mempengaruhi Harold D. Laswell untuk membuat pola komunikasi yang disebut formula Laswell pada tahun 1948. Model komunikasi Laswell secara spesifik banyak digunakan dalam kegiatan komunikasi massa. Dalam penjelasannya, menurut Cangara (seperti dikutip dalam Radenintan, 2017), Laswell menyatakan bahwa untuk memahami proses komunikasi perlu dipelajari setiap tahapan komunikasi. Pola komunikasi Laswell melibatkan lima komponen komunikasi yang meliputi Who (siapa), Say What (mengatakan apa), In Which Channel (menggunakan saluran apa), to whom (kepada siapa), what effect (apa efeknya).
3) Pola Komunikasi Linear
Pola komunikasi linear merupakan proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. Komunikasi linear berlangsung secara tatap muka maupun menggunakan media. Komunikasi tatap muka, baik komunikasi antarpribadi maupun kelompok, walaupun memungkinkan terjadinya dialog, tetapi terkadang berlangsung secara linear. Proses komunikasi secara linear umumnya berlangsung pada komunikasi bermedia, kecuali komunikasi melalui media telepon. Komunikasi linear dalam prakteknya hanya ada pada komunikasi bermedia, tetapi dalam komunikasi tatap muka juga dapat dipraktekkan , yaitu apabila terjadi komunikasi pasif.
4) Pola Komunikasi Sirkular
Pola komunikasi sirkular terjadi apabila ada feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus komunikasi dari komunikan kepada komunikator. Oleh karena itu, feedback bisa mengalir dari komunikan kepada komunikator dan disebut dengan response, atau tanggapan komunikan terhadap pesan yang ia terima dari komunikator.
Pola komunikasi sirkular ini menurut Arni (2005) didasarkan pada perspektif interaksi yang menekankan bahwa komunikator atau sumber respon secara timbal balik pada komunikator lainnya. Perspektif interaksi ini menekankan pada tindakan yang bersifat simbolis dalam suatu perkembangan yang bersifat proses dari suatu komunikasi manusia. Dalam pola komunikasi sirkular, umpan balik yang terjadi antara komunikator dan komunikan saling mempengaruhi satu sama lain. Komunikator dan komunikan mempunyai kedudukan yang salam dalam pola komunikasi ini. Tipe komunikasi yang menggunakan pola ini adalah komunikasi interpersonal yang tidak membedakan antara komunikator dengan komunikannya, bahkan bisa digunakan dalam komunikasi kelompok.
