Penyampaian pesan dalam komunikasi bisa disampaikan melalui komunikasi verbal maupun non verbal. Komunikasi verbal menurut Mulyana (2008) ialah jenis simbil yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk dalam pesan verbal yang disengaja, yaitu merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain dan dilakukan secara lisan. Komunikasi verbal membentuk suatu sistem kode yang saat ini kita mengenalnya dengan sebutan bahasa.

Berbeda dengan komunikasi verbal, komunikasi non verbal menurut Samovar & Porter (seperti dikuti dalam Mulyana, 2008) mengatakan bahwa:

Komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima; jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan; kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan – pesan tersebut bermakna bagi orang lain (Mulyana, 2008, h.343).

Pesan – pesan nonverbal dapat membuat kita mengetahui bagaimana perasaan seseorang yang tidak bisa diungkapkan melalui komunikasi verbal. Bahkan, kesan pertama ketika kita berkomunikasi bisa ditentukan melalui pesan non verbal yang diberikan, apakah sedang bahagia, bingung, maupun sedih. Pesan non verbal memiliki pengaruh yang kuat dalam berkomunikasi.

Komunikasi verbal dan nonverbal juga berkaitan dengan budaya. Menurut Taylor (seperti dikutip dalam Liliweri, 2011) mengatakan bahwa “kebudayaan sebagai sesuatu yang kompleks dari keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian, dan hukum adat istiadat dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Kebudayaan sangat dipengaruhi oleh norma dan norma juga mempengaruhi perilaku sosial masyarakatnya, termasuk perilaku komunikasi”. 

Dilihat dari komunikasi verbal, kemampuan berbahasa dapat mempengaruhi persepsi seseorang. Bahasa terikat oleh konteks budaya dan dapat dipandang sebagai perluasan budaya. Mulyana (2008) mengatakan bahwa setiap bahasa menunjukkan simbolik yang khas, melukiskan realitas pikiran, pengalaman batin dan kebutuhan pemakaiannya. Bahasa yang berbeda khususnya bahasa daerah memaksakan kita untuk memandang setiap orang yang ada di hadapan kita dengan kategori tertentu. Misalnya dalam bahasa Sunda, ada beberapa tingkatan tertentu yang menunjukkan perbedaan berbicara dalam tingkatan sosial. Bagaimana cara berbicara dengan teman sebaya, lebih mudah, maupun lebih tua. 

Sedangkan komunikasi non verbal cenderung lebih banyak mengandung pesan emosional daripada komunikasi verbal. Berkaitan dengan budaya, komunikasi antara komunikator dengan komunikan harus benar – benar saling memahami komunikasi non verbal yang dilakukan. Sebagai salah satu komponen budaya, ekspresi yang digunakan pada komunikasi non verbal memiliki banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan suatu sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian dari pengalaman budaya. Komunikasi nonverbal yang berlandaskan budaya, hal yang sudah disimbolkan biasanya telah disebarkan melalui budaya yang ditujukan kepada anggota – anggotanya. 

Copyright © 2018 DriverDownload
All rights reserved
close